IKLAN III

Aku ingin pergi tanpa dimengerti. Bersembunyi di gorong-gorong hitam dan mungkin dikira sampah.
Dianggap tanpa menganggap.
Dituduh munafik tanpa pengetahuan rasa. Tersangka kejahatan hati.

Tapi aku tau aku siapa dan bagaimana.
Jahat atau baik selalu ada topeng sebagai tamengnya, sebagai tembok bajaku dari apa yang dinamakan kepahitan.
Aku sudah muak dengan lelahnya, sakitnya, gelapnya, pengapnya.
Aku hanya mencoba berdiri sekuat gunung dan sekeras batu.
Sendiri.
Ya, tubuhku mungkin sendiri tapi bagian yang lainnya tidak.
Ada banyak jiwa menemani di dalam jiwaku.
Terbang bebas seperti burung gagak yang menantang atau merawat diri seperti kucing hitam yang garang.

Aku ingin pergi tanpa dimengerti.
Karena untuk mengertiku, kamu harus merasa pahit.
Dan untuk membuatmu mengertiku, aku merasa tak tahan.
Aku hanya ingin kebahagiaan terpancar dari warnamu, itu cukup membangkitkan sisi jiwaku yang lain.
Aku bisa bertahan tanpa harus dimengerti lebih.
Dengan perbedaan, semua indah dan menjadi sempurna.
Bersama kenyataan, kita hidup untuk mati dan menuju entah kemana atau kepada siapa.
Mungkin berpisah atau bertemu lagi.

Entahlah.
Bagiku hidup hanyalah permainan teka teki yang dibalut sinema dengan scene berbeda.
Kadang mengejutkan, kadang biasa saja.